, ,

bika ambon

12:33 PM



Beberapa hari yang lalu, sejak terlibat perbincangan dengan seorang teman yang menceritakan keinginannya untuk membuka sebuah usaha untuk berjualan kue-kue kecil tradisional di sebuah mall, hati saya jadi terusik. Mengapa? Karena ternyata dari sekian banyak kue-kue yang sudah saya coba bikin dan saya tuliskan resepnya di sini, kok belum ada satu pun kue yang berciri khas Indonesia yang saya buat, ya?

Maka sejak hari itu, tiap malam saya mulai rajin googling kue-kue tradisional yang kira-kira resepnya bisa saya coba.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan saya jatuh pada resep bika ambon. 
Haha! Gak tanggung2 memang. Bukan memilih resep kue tradisonal yang mudah, namun saya langsung jatuh hati pada bika ambon yang justru membutuhkan kesabaran dan keahlian dalam membuatnya.

Dan semenjak itu, setiap kali saya membaca komposisi bahan-bahan serta tahap demi tahap yang harus dilakukan dalam membuat bika ambon, sungguh! i couldn't hold up too long. Hehe...

Dan kemarin, begitu kesempatan itu datang, saya pun langsung mengeksekusi resep tersebut.




Bika Ambon
by. Rachmah Setyawati


Bahan biang :

50 gram tepung terigu
20 gram ragi [saya pakai ragi instan merk f*rmipan]
25 gram gula pasir
3 gram garam halus
100 ml air kelapa


Bahan lainnya:

250 gram tepung tapioka/kanji [saya pakai sagu tani]
12 butir kuning telur
4 butir putih telur
275 gram gula pasir


Bahan cair :

500 ml santan kental dari 2 butir kepala
2 gram garam dapur
3 batang serai
8 lembar daun jeruk, buang tulang daun
2 lembar daun pandan


Cara membuat :
  1. Aduk bahan biang. Taruh dalam baskom, ragi instan, tepung terigu, gula pasir & garam halus, tuangi air kelapa. Aduk dengan menggunakan tangan hingga rata. Lalu tutup baskom dengan lap / plastik wrap. Diamkan 30 s.d 45 menit hingga adonan biang mengembang.
  2. Sambil menunggu adonan biang mengembang, masak santan kental bersama garam halus, serai, daun jeruk dan daun pandan hingga panas saja (tidak sampai mendidih) lalu sisihkan. Biarkan dingin hingga suhu ruang. (Saya memasak santan hingga benar-benar matang dan mendidih).
  3. Kocok semua telur dan gula pasir hingga mengental. Kemudian ambil adonan biang, campur dengan tepung tapioka/kanji. Aduk menggunakan tangan hingga merata. Lalu tambahkan adonan telur kedalamnya sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan tangan. Mengaduknya dengan cara gerakan tangan naik turun/dikeplok-keplok hingga semua adonan tercampur rata. Kemudian masukkan santan kental yang sebelumnya telah disaring lebih dahulu. Aduk rata kembali menggunakan tangan dengan cara yang sama (dikeplok-keplok) hingga adonan tercampur rata dan bertekstur halus (kurang lebih 20 menit). Lalu tutup baskom dengan lap/plastik wrap dan diamkan adonan hingga 3 jam. (Saya hanya membutuhkan waktu 2,5 jam karena adonan telah mengembang dengan baik).
  4. Setelah 3 jam, olesi tipis-tipis permukaan loyang ukuran 20 x 20 x 7 cm dengan minyak goreng. Alasi permukaan dasar loyang dengan kertas roti dan poles lagi dengan minyak goreng. (Saya hanya mengoles pinggiran dan dasar loyang, tidak mengalasi dengan kertas roti).
  5. Panaskan oven suhu 160'C. Gunakan hanya api bawah saja. Letakkan loyang ke dalam oven selama 15 menit, kemudian keluarkan dan tuang adonan ke dalam loyang.
  6. Panggang pada rak paling bawah. Buka sedikit pintu oven, hingga adonan dalam loyang telah terlihat berlubang-lubang permukaan atasnya. Kemudian tutup pintu oven, lanjutkan pemanggangan hingga matang sempurna kurang lebih selama 40 s.d 50 menit.
  7. Lakukan tes tusuk untuk mengetahui kematangan kue. Setelah matang, matikan api bawah. Lalu nyalakan api atas. Panggang sejenak hingga permukaan bika ambon terlihat kecoklatan.
  8. Matikan oven, keluarkan bika ambon, diamkan di suhu ruang hingga dingin.

____penampakan bika ambon saya saat baru keluar dari oven____


Saya sendiri menganggap uji coba bika ambon saya yang pertama kali ini cukup sukses. Selain aroma daun pandan dan daun jeruk yang seketika tercium begitu loyang bika ambon dikeluarkan dari oven, rupanya serat yang terbentuk selama proses fermentasi dan pemanggangan, dimana ini merupakan salah satu faktor utama bika ambon bisa disebut berhasil, nyatanya terlihat begitu cantik setelah saya potong. 
Wuih! senang banget rasanya. (ง'̀⌣'́)ง  Meski begitu, untuk selanjutnya, penggunaan gula pasir dalam resep akan saya tambahkan sedikit karena rasa manis pada bika ambon buatan saya, agak sedikit kurang menurut saya. 




Jujur, tak banyak memang, orang yang tertarik untuk membuat kue-kue tradisional di rumah. Selain kesannya ketinggalan jaman, juga beberapa alasan klasik membuat resep-resep kue tradisonal turun temurun makin disimpan pada tumpukan paling bawah rak-rak buku di rumah.

Saya akui, perlu trik-trik tersendiri dalam membuat kue tradisional. Trik yang tidak saya temui saat harus mewujudkan selembar resep menjadi japannese cheese cake yang lezat, misalnya.

Bagaimana tidak, seperti yang sudah saya tuliskan diatas, memang butuh banyak perjuangan dalam membuat bika ambon. Mulai dari membuat biang untuk pengembang adonan yang harus difermentasi kurang lebih selama 45 menit, kemudian mengaduk adonan bika ambon dengan menggunakan telapak tangan sambil dikeplok-keplok gitu selama hampir 20 menit kemudian adonan lantas difermentasikan kembali hingga 3 jam lamanya. Bayangkan 3 jam! ┐(ˇ.ˇ")┌ 

Hingga akhirnya adonan baru bisa di panggang dalam loyang yang sebelumnya telah dipanaskan terlebih dahulu dalam oven selama 15 menit yang mengakibatkan tiga jari saya, telunjuk, jari tengah dan jari manis, melepuh karena loyang yang baru saja saya tuangi adonan dan hendak saya kembalikan ke oven, saya pegang tanpa menggunakan serbet! (˘_˘")   

Namun semua itu akhirnya terbayar sudah, ketika sepotong bika ambon hasil buatan sendiri menemani secangkir teh saya saat sarapan esok paginya. (˘⌣˘) 

Dan sambil menikmati bika ambon yang entah telah irisan keberapa, tiba-tiba saya kembali teringat pada alasan yang melatari saya hingga membuat kue yang sedang saya nikmati ini. "Ah, andai saja ya, saya bisa mengirimkan beberapa potong bika ambon buatan saya ini untuk teman yang menginspirasi itu, yah paling tidak sebagai ucapan terima kasih saya karena secara gak langsung ide dia telah menginspirasi--"



You Might Also Like

0 comments